Tak Panik Soal Dana Saat Sakit Melanda

25
Mar

“Sedia payung sebelum hujan”. Pepatah ini menyadarkan kita untuk senantiasa mawas diri dan berjaga. Nah, risiko kesehatan bisa terjadi kapanpun. Makanya selagi sehat, pastikan menyiapkan dana darurat kesehatan sebelum sakit. Apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini.

Dampak dari pandemi ini pun akhirnya membawa kita pada perubahan dalam cara menjalankan hidup dan beraktivitas. Bahasa kerennya, “New Normal”. Tak hanya soal melindungi diri dari terpapar virus sialan ini, dalam situasi yang serba dibatasi ini kita dituntut untuk berubah dan menyesuaikan diri sebagai upaya “bertahan hidup” dari dampak pandemi, baik dalam gaya hidup, ekonomi dan keuangan, maupun interaksi sosial masyarakat.

Nah, soal beradaptasi selama pandemi, dalam artikel berjudul “Konsumen Lebih Bijak Berbelanja”, Harian Kompas merangkum informasi sejumlah hasil survei yang diinisiasi Katadata Insight Center. Survei tersebut menyimpulkan bahwa pandemi COVID-19 telah menggeser preferensi belanja dan pengelolaan keuangan masyarakat. Survei ini juga menunjukkan kondisi keuangan mayoritas masyarakat yang tertekan akibat pandemi mempengaruhi preferensi berbelanja dan menjadi lebih bijak dan hemat. 

Dari data tersebut, masyarakat yang semula berbelanja berdasarkan keinginan demi mengikuti tren, belakangan dinilai menjadi berbelanja berdasarkan kebutuhan untuk bertahan hidup. Apalagi, dari salah satu survei yang dilakukan terhadap hampir 2500 responden didapat data bahwa sebanyak 76,6 persen responden merasa khawatir terhadap kondisi keuangan mereka selama pandemi. Hasil lainnya, sebanyak 70,3 persen responden khawatir terhadap masalah kesehatan fisik selama pandemi. 

Faktanya, di tengah kondisi keuangan yang terbatas, kita dituntut untuk mampu mengelolanya secara bijak. Tak hanya tetap berupaya memenuhi kebutuhan pokok, pemenuhan kebutuhan kesehatan di tengah kondisi seperti sekarang ikut menjadi prioritas. Hal ini terbukti dengan alokasi dana untuk kesehatan yang meningkat: untuk belanja vitamin, masker, hand sanitizer, termasuk tes COVID-19.   

Dalam situasi yang dibilang “musim penyakit” ini, COVID-19 menjadi momok yang menghantui siapa saja dan kapan saja. Anak-anak, remaja, dewasa, bahkan usia lanjut begitu rentan terjangkiti virus ini yang kemudian berdampak pada risiko kesehatan yang membahayakan. Meski sebenarnya risiko kesehatan dan penyakit bukan terjadi kali ini saja. Yang pasti, siapapun bisa jatuh sakit kapapun. 

Nah, yang justru menjadi masalah klasik adalah saat sakit itu datang secara tiba-tiba dan kita dibuat pusing soal dana untuk pengobatannya. Betapa tidak, berangkat ke rumah sakit atau klinik, berkonsultasi dengan dokter, menebus obat di apotik yang diresepkan dokter, sampai mendapatkan fasilitas medis penunjang untuk perawatan bila diperlukan, semuanya memerlukan dana.  

Berapa dana yang harus disiapkan? Angkanya benar-benar tak bisa diduga, tergantung risiko sakit yang diderita. Tentu beda antara penanganan batuk-pilek dengan serangan jantung, bukan? 

Semuanya akan beda ceritanya kalau kita punya “simpenan”. Tapi bagaimana dengan yang tidak? Yang terjadi macam istilah “sudah jatuh, tertimpa tangga”. Jatuh sakit di saat tak punya biaya. Parahnya lagi, banyak dari kita yang belum juga “melek” soal pentingnya kesiapan dana darurat untuk kesehatan. Masih banyak dari kita yang baru “ribet” dan “ribut” soal dana justru ketika sudah kejadian. Jalan singkatnya, pinjam sana-sini.   

Kenapa begitu? Ingat, ini bukan semata-mata soal keterbatasan dana. Justru, banyak dari kita merasa “anteng-anteng” saja dengan risiko kesehatan yang mungkin bisa terjadi karena merasa sudah dibekali asuransi, BPJS Kesehatan, tunjangan kesehatan dari tempat bekerja yang bisa di-reimburse, bahkan saldo kartu kredit yang dianggap cukup untuk situasi darurat. Ditambah lagi alasan merasa masih sehat membuat banyak dari kita abai akan dana darurat kesehatan. Merasa belum butuh a.k.a belum sakit!  

Perlunya Dana Kesehatan

Padahal harus disadari bahwa tunjangan-tunjangan itu semua ada “limit-nya”. Sementara risiko sakit bisa terjadi kapanpun, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Dan, tingkat urgensi suatu penyakit memerlukan tindakan yang urgent juga. Sialnya, ada fasilitas-fasilitas kesehatan, alat, obat, atau uji lab yang harus dibayar tunai saat itu juga. Tunjangan pembiayaan kesehatan dan health benefit yang tadi disebutkan juga ada yang tidak bisa diakses secara mendadak. Bahkan, di sejumlah polis asuransi sekalipun masih ada “term & condition” soal bisa-tidaknya klaim atas suatu kondisi penyakit.   

Amit-amit, kita ambil contoh keadaan darurat, kita terkena serangan jantung atau orang tua kita yang memiliki komorbid terkena COVID-19 yang perlu penanganan medis secara cepat. Kita tidak bisa tutup mata ada sejumlah rumah sakit yang menerapkan kebijakan wajib “deposit” dana sebelum penanganan pasien. Dan, bukan tidak mungkin urusan administrasi di rumah sakit seringkali menjadi hambatan dalam penanganan pasien. Jadi, bisa dibayangkan betapa “tegangnya” situasi yang dihadapi ketika kita benar-benar tidak memiliki persiapan dana darurat yang mencukupi. Di satu sisi kita khawatir dengan keselamatan kita atau orang yang kita sayangi, tapi di sisi lain kita “puyeng” karena tak siap soal dana.

So, apa yang harus disiapkan?

Di sinilah pentingnya memiliki dana kesehatan yang bisa dimanfaatkan setiap waktu, khususnya dalam keadaan darurat atau mendadak. Tentunya, akan lebih baik jika kita bersiap untuk menghadapi situasi yang terburuk sekalipun. Kuncinya ada pada perencanaan keuangan yang bijak. 

Mengutip beberapa saran dari perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie di akun Instagramnya (@pritaghozie), ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan guna menyiapkan dana darurat untuk kesehatan. 

  1. Nabung semasa sehat
    Selagi sehat, siapkan tabungan yang dialokasikan untuk dana kesehatan darurat. Tidak perlu banyak, tapi konsisten menyisihkan pendapatan kita secara berkala. Rumus ini berlaku bagi siapapun, baik yang sudah ataupun yang belum memiliki jaminan asuransi, BPJS Kesehatan, bahkan health benefit dari perusahaan tempat bekerja. Berapa dana yang harus dialokasikan untuk tabungan darurat ini? Prita Hapsari Ghozie dalam sejumlah posting-an sharing-nya sering menyarankan agar kita menyisihkan sedikitnya 30% dari pendapatan bulanan untuk saving, yang di dalamnya dibagi-bagi lagi untuk dana darurat, tabungan, dan investasi. Tapi terpenting saran Prita, lakukan secara konsisten setiap ada pemasukan. Nah, dana inilah yang bisa digunakan saat darurat, termasuk kebutuhan tindakan medis di saat sakit.
  2. Medical check-up berkala
    Dari kebiasaan ini kita bisa memastikan risiko penyakit yang mungkin kita hadapi, termasuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan, termasuk biaya untuk penanganannya. “Berat” melakukan medical check-up rutin karena mahal? Tenang, sebagai alternatif minim biaya, kita bisa upayakan menjaga kesehatan dengan rutin berolahraga, asupan makanan dan minuman yang sehat, dan konsumsi multivitamin berkala. Mau yang “bebas” biaya? Bisa. Ini jaman digital, tinggal klik! Manfaatkan laptop atau handphone kita untuk mengakses begitu banyak apps dan website kesehatan yang menawarkan pre-screening kondisi kesehatan, termasuk konsultasi online mengenai suatu keluhan penyakit. Namun, kita tetap harus bijak. Kunjungi dokter bila terjadi keluhan atau gangguan kesehatan selekasnya untuk mengurangi risiko yang lebih parah.       

  1. Miliki asuransi kesehatan yang mumpuni
    Selain jaminan kesehatan dari BPJS dan health benefit dari kantor tempat kita bekerja, ada baiknya menyempurnakan “tabungan” untuk kondisi kesehatan darurat kita dengan polis asuransi bila ada bujet lebih. Meski dengan harga yang terjangkau, pastikan memiliki jaminan perlindungan yang memadai, termasuk fasilitas rawat inap, penyakit kritis, bahkan fasilitas medical check-up.

  1. Akses gaji di luar tanggal gajian

    Jujur saja, banyak dari kita yang mengandalkan gaji bulanan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan darurat kesehatan. Sayangnya, kebanyakan dari kita baru bisa menikmati “upah” kerja di setiap akhir bulan. Sementara jatuh sakit tidak bisa ditebak waktunya dan tak bisa menunggu sampai akhir bulan. Nah, wagely  memberikan akses bagi karyawan—yang perusahaannya sudah bekerja sama—untuk bisa menarik gaji sebelum waktunya jika membutuhkan dana darurat, termasuk untuk kesehatan. Bukan itu saja, sebagai solusi (Earned-Wage Access), wagely bisa menjadi “jalan ninja” dalam mewujudkan kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan dan menghindari karyawan dari jerat utang, termasuk “pinjol” yang meresahkan. So, pastikan perusahaan atau kantor kita bekerja sudah bekerja sama dengan wagely!

    Jadi, benar kata pepatah: “sedia payung sebelum hujan.” Dengan menyiapkan dana kesehatan sama halnya kita menyiapkan diri kita dengan layanan fasilitas kesehatan terbaik dan nggak bikin pusing di saat kita sakit. Dan, dengan pengelolaan keuangan yang bijak, kita akan mampu memprioritaskan pemenuhan kebutuhan hidup kita dalam situasi apapun, termasuk di saat pandemi seperti sekarang ini. 

Leave a Comment